Minggu, 02 Desember 2007

Intan Martapura

Kualitas terbaik, harga terendah

KAWASAN Cempaka Banjarbaru, selama ini dikenal sebagai penghasil intan di Kalsel. Mata pencaharian penduduk mayoritas di sini adalah penambang intan. Para penambang ini tinggal di tiga Kelurahan, Cempaka, Sungai Tiung dan Bangkal. Konon kabarnya, intan Cempaka yang juga disebut galuh ini, merupakan intan terbaik di dunia. Hanya saja, cuttingnya (olahan/ gosokannya) sangat jelek, sehingga harganya sangat murah. Untuk mensiasatinya, selain melatih SDM-nya, Pemkab Banjar juga berupaya membuat sertifikasi intan Martapura ini dan mengadakan peralatan penggosokan yang memadai.

Selama ini, tata niaga intan Martapura tidak pernah bisa terdeteksi secara pasti. Bahkan, kapasitas produksinya juga tidak pernah terpantau. Mengingat bentuknya yang kecil, intan ini sering diselundupkan ke luar negeri. Para penambang pun tidak bisa berbuat apa-apa dalam urusan tata niaga intan ini. Mereka hanya menambang, jika dapat, mereka diberi upah. Perusahaan penambang intan yang melakukan penambangan secara resmi juga sangat tertutup terhadap kapasitas produksi dan pemasarannya. Banyak pihak yang menyatakan perusahaan resmi ini telah banyak menghasilkan intan karena penambangannya yang telah modern. Tapi mengenai hasil dan laporannya, tidak pernah terekspose keluar.


Berikut penelusuran intan Cempaka mulai dari penambangan hingga ke pasar intan Martapura.

Meski penambangan batu mulia berharga sangat mahal ini telah dilakukan sejak jaman penjajahan, tapi keberadaan ratusan hektar tambang intan di kawasan ini belum mampu mengubah nasib sebagian besar warganya. Kebanyakan penambang hanya bekerja pada pemilik modal, menjadi buruh. Anehnya, meski hasilnya sangat kecil, para penambang tetap bertahan hingga kini. Ada dua alasan, pertama, tidak ada pekerjaan lain, kedua karena ada "mimpi" yang terus mereka kejar. Ada slogan menantang di kalangan penambang ini, "Pagi hari boleh miskin, tapi sore hari bisa kaya mendadak, karena menemukan intan raksasa." Rupanya slogan inilah yang membuat penambang intan tetap bertahan hingga saat ini.

Dua orang penambang, Asat dan Ubay mengatakan, mereka bertahan karena ada secercah harapan untuk menjadi orang kaya mendadak. Meski kehidupannya belum beranjak jauh dari saat awal menambang tahun 1990-an, mereka tetap bertahan dengan harapan bisa menemukan intan yang cukup besar, yang bisa mengubah hidupnya.

"Siapa tahu dapat intan besar. Kan bisa kaya mendadak," kata Ubay yang ditemui saat menambang di kawasan Pinang Kelurahan Cempaka, akhir November 2007.

Meski ada yang bekerja perorangan, tapi kebanyakan dari mereka bekerja secara berkelompok. Mereka biasanya bekerja di bawah satu komando, pemilik modal. Pemilik modal inilah yang menyediakan peralatan dan membiayai seluruh akomodasi penambang yang biasanya berjumlah 5-10 orang tiap kelompok. Bila mereka mendapatkan hasil, mereka berbagi dengan pemilik modal dan pemilik tanah dengan pembagian yang mereka sepakati. Biasanya, 10-20 persen untuk pemilik lahan dan sisanya dibagi dua antara penambang dan pemilik mesin.

Di saat intan sudah sepi seperti sekarang, para penambang tidak diberi biaya akomodasi, hanya diberi modal untuk menjalankan mesin. Jika mereka dapat intan, biasanya langsung dijual ke pembelantikan (broker) yang banyak nongkrong di lokasi penambangan. Hasilnya, dibagi dengan pemilik mesin dan pemilik lahan.

Tidak ada harga yang pasti untuk intan mereka. Yang ada adalah harga kesepakatan. Tapi, harga di pendulangan tidak jauh berbeda. Pembedanya adalah kualitas intan itu sendiri, cacat atau tidak, besar kecil (jumlah karat), warna, dan selera pembeli. Bisa saja ada intan yang menurut sebagian orang jelek, tapi disukai orang, harganya jadi sangat mahal.

Seorang pemilik mesin, H Onky mengatakan, dia menyediakan dua mesin untuk 10 penambangnya. Satu untuk penyedot, satunya untuk penyemprot. Mulai menambang sejak tahun 1990, tiap hari dia menyediakan biaya operasional mesin, termasuk service dan sparepart. Terkadang memberi biaya akomodasi. Tiap hari, dia menyediakan biaya untuk bahan bakar minimal 20 liter. Bahan bakar yang digunakan minyak tanah dicampur oli bekas.

Pembagian hasil sesuai kesepakatan. Pemilik tanah diberi 10-20 persen, sisanya dibagi dua dengan penambang. Demi menjaga keamanan, dia menyeleksi para penambang dan menempatkan orang kepercayaan. Upah para penambang dibayar sesuai intan yang didapat setelah dikurangi fee untuk pemilik lahan.

Penjualan intan yang didapat, dia serahkan sepenuhnya kepada penambangnya. Biasanya, di areal tambang sudah ada broker (biasa disebut Pembelantikan) yang biasa membeli intan dari para penambang.

"Saat ini intan sedang sepi. Areal tambangnya juga hampir habis. Bahkan, dalam tahun ini, saya belum dapat penghasilan sepeserpun. Saya banyak hutang untuk biaya produksi," kata H Onky yang juga PNS di Pemkab Banjar ini.

Intan Cempaka ini ramai pada tahun 1995 hingga 2000 silam. Transaksi intan dilakukan dengan berbagai cara, dijual ke Pembelantikan, pialang besar (Korea, Taiwan atau Kanada), toko atau pengusaha intan, ke luar daerah, atau dijual ke broker ke luar negeri. Sekali lagi, tidak ada harga standar, tergantung selera.

Seorang Pembelantikan, H Basran mengatakan, dia membeli intan langsung dari penambang. Terkadang dia juga melakukan jual beli dengan sesama Pembelantikan. Tidak ada kepastian jumlah yang dia peroleh. Dalam sebulan, terkadang dapat lima butir dengan berbagai ukuran (karat), tapi terkadang tidak dapat sama sekali. Akhir-akhir ini, saat memasuki musim penghujan, intan sulit didapat karena penambangnya banyak yang libur.

Keuntungan yang didapat tergantung bagaimana dia bisa menawarkan intan itu kepada pembelinya di Pasar Intan Martapura. Pembelinya berasal dari masyarakat langsung yang datang ke pasar intan Martapura atau dijual ke toko intan.

"Kalau dijual ke masyarakat langsung, terkadang bisa untung banyak. Tapi kalau dijual ke toko, agak murah karena mereka sudah tahu standarnya. Lagipula mereka kan menjual lagi ke pembeli," kata Basran.

Sahrin, Pemilik Toko Kalimantan mengatakan, selama ini dia mendapat intan dari penambang secara langsung, pembelantikan, dan pedagang besar. Ada tiga jenis intan yang dijualnya, intan Cempaka, Pontianak dan Eropa. Dari Cempaka, kini tinggal 30 persen saja karena jumlahnya semakin menipis.

Mengingat intan Cempaka merupakan yang terbaik di dunia, kebanyakan pembeli dari luar negeri membeli dalam bentuk mentah atau setengah jadi. Para pembeli ini melakukan finishing atau cutting di Eropa (Belanda atau Belgia). Mereka menjualnya lagi dengan harga yang sangat tinggi.

Wakil Ketua Masyarakat Batu Mulia Indonesia (MBI) Kalsel, A Muhammad Hendra SE mengatakan, hingga saat ini, di Pasar Intan Martapura masih didominasi oleh intan asal Cempaka (60-70 persen), sebagian lainnya berasal dari Pontianak dan Eropa.

Di pasar intan Taman Cahaya Bumi Selamat (CBS) Martapura, pedagang intan berjumlah sekitar 300-an pedagang. Kebanyakan toko disuplai oleh Pembelantikan atau dari penambang secara langsung. Mengenai harga tidak pernah ada standar baku, apalagi yang masih mentah dari para penambang.

Martapura, 2 Desember 2007

2 komentar:

  1. Perusahaan yang menaungi pertambangan intan di martapura apa saja???

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setahu saya, setelah ditutupnya satu-satunya perusahaan tambang intan resmi, Galuh Cempaka, kini praktis penambangan intan dilakukan oleh masyarakat lokal.

      Hapus