Minggu, 09 Desember 2007

sabtu yang (selalu) menyenangkan

Seperti pada hari-hari Sabtu yang lain, Sabtu ini juga terasa menyenangkan. Biasanya, saya bermain-main dengan si rhei seharian penuh, karena Sabtu adalah jadwal libur kerjaku. Kalau tidak main di rumah, biasanya kami main ke mall, atau sekedar jalan-jalan tanpa tujuan.

Bermain dengan si rhei sungguh menggemaskan. Apalagi, saat ini dia sedang senang-senangnya menirukan apapun ucapan orang. Lidahnya yang belum berfungsi sepenuhnya, membuat kami sering tertawa. Ucapannya sering tidak pas dengan apa yang dimaksud. Saat ini dia masih belum bisa mengucapkan huruf b, sehingga sering bilang "dis" kalau ada bis lewat, atau sering bilang "da" kalau mau bilang ciluk "ba" Dia juga sering bilang "tak" atau "tatak" bila ada truk yang lewat. Lucu bukan! dan tentu saja tidak nyambung...



Asyik memerhatikan perkembangannya dari waktu ke waktu, tidak terasa kini sudah 20 bulan menemani rhei. Rasanya, baru kemarin saya menggendong rhei di atas bantal. Saat itu, tubuhnya tidak lebih besar dari bantal, tapi kini sudah hampir sebesar kasur. Tubuhnya bongsor. Tulangnya besar. Tapi gigi atasnya kaya gigi ikan hiu, gigis. Dia juga sering bilang "adi" bila ingin gosok gigi saat mandi.

Sering kali saya merasa bersalah, merasa berdosa, dan tentu saja kasihan, meninggalkan rhei tiap hari dari pagi sampai sore untuk kerja. Kalau kerja, kami titipkan rhei ke seorang teman yang sudah kami anggap saudara sendiri. Untunglah kami dapat saudara yang tulus merawatnya. Terkadang saya juga heran, dia masih bisa mengenali kami. Padahal, praktis kami hanya bisa bertatap muka dan bercanda tidak lebih dari empat jam sehari semalam secara sadar. Karena selebihnya rhei dalam keadaan tidur.

"Seorang anak adalah titipan. Dia, seperti halnya apa yang ada di alam semesta ini bukanlah milikmu. Dia milik Illahi yang dititipkan kepada kamu. Untuk itu, jalankanlah amanahmu secara baik," (Kahlil Gibran)

Ingat ungkapan Kahlil Gibran itu, saya jadi tambah berdosa. Tapi kalau sudah ingat ungkapan itu, biasanya saya malah jadi tambah semangat kerja. Ingin memberikan yang terbaik untuknya. Beban saya bertambah ringan saat mengingat ungkapan yang biasa dipakai sebagai pembenar oleh para orangtua dan para psikolog: "Yang terpenting kualitas bukan kuantitas pertemuan." Tapi, sejauh ini, saya selalu menghindari ungkapan: "Mau bagaimana lagi, situasinya memang sudah seperti ini!" karena, ungkapan ini bernada pasrah, tanpa usaha.

Mempelajari banyak buku, saya jadi maklum kenapa rhei masih tetap setia kepada kami meski sering ditinggal. Bukan karena kami orangtuanya, tapi lebih karena sifat asali manusia.

Dalam kandungan, seorang janin hidup dalam alam roh. Begitu juga saat usianya tiga bulan, sebagian besar alamnya masih berupa alam roh. Sehingga, meski kesadarannya belum penuh, inderanya belum bisa berfungsi sempurna, dia sudah bisa mengenali orangtuanya. Dia bisa menangis atau memberi tanda-tanda khusus bila terjadi sesuatu terhadap orangtuanya.

Usia berikutnya hingga dua tahun, dia masuk alam hewani. Yang berfungsi fisiknya. Kesadaran sudah ada, tapi belum sempurna penuh. Dia senang dengan anak-anak kecil. Terkadang takut dengan orang dewasa yang belum dikenalnya. Kalau lihat hewan, dia paling senang merespon. Rasionya belum sepenuhnya berfungsi, sehingga dia tidak takut kepada anjing herder sekalipun.

Alam hidupnya ini akan berubah saat anak-anak, remaja, dewasa dan tua. Perkembangan dunia manusia itu sangat dipengaruhi oleh lingkungannya. Bila lingkungannya "membebaskan" seorang anak akan tumbuh menjadi seorang yang menghormati kehidupan. Seorang anak yang hidup di lingkungan penuh kemanjaan, gelimang harta dan miskin cinta, pada saat dewasa yang tumbuh hanya fisiknya saja, sedang jiwanya masih kanak-kanak. Persis seperti ungkapan Gus Dur yang mengatakan bahwa anggota DPR seperti anak-anak TK, bisanya cuma minta dan protes saja, tapi miskin ide.

Yang saya tahu, setiap manusia itu diciptakan sebagai makhluk unggul, paling sempurna. Unggul karena setiap manusia yang terlahir selalu mengalahkan sekitar 249.999.999 saudaranya saat masih jadi sel sperma. Hanya satu sel sperma yang berhasil membuahi sel telur. Yakin bahwa manusia sebagai ciptaan Illahi yang paling sempurna, saya jadi takut mencederainya...


salam,

Banjarbaru, Kalsel
Minggu, 9 Desember 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar