Senin, 17 Desember 2007

tentang filsafat

Banyak kawan mengatakan, filsafat itu berat. Orang-orang yang bergelut di dunia filsafat, kalau bicara atau menulis sulit dipahami orang lain. Kalau sudah bicara, selalu membuat orang terbengong-bengong, entah paham atau tidak. Bahkan ada seorang kawan yang mengatakan kalau orang yang bergelut di dunia filsafat itu suka yang aneh-aneh dan sulit dipahami.

Realitas itu memang benar adanya, setidaknya dari banyaknya komentar-komentar semacam itu dari kawan-kawan. Bahkan, banyak orang yang langsung bilang "wah" saat mendengar kata filsafat. Meskipun, perkataan "wah" itu sendiri juga sulit diterjemahkan.


Beberapa waktu terakhir, ungkapan itu lebih sering muncul, terutama setelah saya aktif menumpahkan uneg-uneg di blog ini. Saat mengomentari uneg-uneg saya di blog ini, (Meski mereka tidak menuliskan komentarnya di blog ini karena malas login saat komentar di blogspot), mereka bilang tulisan saya berat. Menurut kawan-kawan ini, mereka terpaksa harus meluangkan waktu khusus untuk membaca uneg-uneg saya di blog ini.

Mendengar komentar tersebut, tentu saja membuat saya merasa besar kepala, membuat saya lupa diri. Karena, ternyata tulisan saya bisa membuat orang lain serius membacanya. Tapi setelah saya renungkan sejenak, saya malah jadi malu, karena mungkin apa yang saya tuliskan itu tidak dipahami orang, atau dengan kata lain, tulisan saya tidak bernas.

Jujur saja, rasanya tidak pantas saya menerima ungkapan-ungkapan itu. Karena, sejauh ini, apa yang saya tumpahkan merupakan uneg-uneg yang sangat-sangat biasa saja. Tidak ada yang istimewa dalam tulisan saya. Kalau ada yang "merasa" tertarik dengan tulisan saya, alhamdulillah. Kalau tidak tertarik, ya memang tidak menarik. Tapi sekali lagi, apa yang saya ungkapkan hanyalah sekedar uneg-uneg belaka, tidak lebih.

Ada beberapa hal menurut saya, mungkin karena kawan-kawan saya itu sangat jarang membaca buku, atau uneg-uneg saya itu merupakan sesuatu hal yang baru, atau mungkin uneg-uneg saya ini memang sedang "pas" dengan situasi mereka. Tapi sekali lagi, ini hanya pendapat pribadi saya yang tentu saja sangat debatable.

Waktu belum mengenal filsafat, apa yang dirasakan kawan-kawan ini sama persis seperti apa yang pernah saya rasakan kala itu. Yang saya tahu saat itu, bahwa filsafat itu adalah sejenis makanan hewan purba, atau makanan binatang di pelosok rimba yang dihuni para jin. Mendengar kata filsafat saja, saya langsung alergi.

Tapi, ketika melihat seorang teman asyik membaca buku-buku filsafat, saya jadi tertarik ikut nimbrung. Karena, teman saya itu bisa begitu asyik membaca hingga lupa waktu. Dan setelah ikut nimbrung, ternyata memang asyik juga. Dan ujung-ujungnya, alam bawah sadar menuntun saya memilih kata "filsafat" di formulir pendaftaran UMPTN. Mungkin karena tekanan bawah sadar saya yang terlalu kuat saat itu, membuat saya diterima di fakultas ini, meski skor UMPTN saya sangat kurang saat itu.

Begitu masuk kampus filsafat, memang benar adanya. Saya menemukan banyak orang aneh, dan pada akhirnya saya jadi ikut-ikutan aneh. Setidaknya, itu komentar dari keluarga saya setelah setahun kuliah di filsafat. Meski banyak orang biasa-biasa saja di kampus ini, tapi lebih banyak orang yang anehnya. Tapi sekali lagi, penilaian orang itu sangat subjektif.

Seorang dosen saya bilang, menunggang kuda (bukan dokar) ke kampus untuk mengajar adalah hal biasa, tidak ada yang aneh. Tapi dosen di kampus lain bilang, itu merupakan hal yang aneh. Jadi, akhirnya saya mengambil kesimpulan sendiri, aneh dan tidak, karena kebiasaan. Mungkin karena dosen saya itu beternak kuda, sehingga menunggang kuda, (termasuk saat pergi ke kampus) adalah hal yang sangat biasa. Tapi ketika dosen lain naik mobil atau motor, melihat dosen saya nunggang kuda, ya jadi aneh.

Kembali ke tulisan filsafat tadi, saya pun mengambil kesimpulan yang subjektif. Banyak tulisan orang-orang filsafat yang memang sulit dipahami, setidaknya bagi orang-orang yang jarang bersentuhan dengan tulisan filsafat. Banyak pula filsuf yang memang bangga jika tulisannya sulit dipahami. Padahal, orang yang sudah "belajar" filsafat, mestinya bisa menyederhanakan bahasanya agar mudah dipahami orang lain. Bukankah di filsafat juga dipelajari tata bahasa, logika, seni, budaya, sastra dan lain-lain. Jadi, dengan banyaknya hal yang dipelajari, mestinya bisa menyederhanakan sesuatu yang sulit menjadi mudah.

salam,

Banjarbaru, Kalsel
Senin, 17 Desember 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar