Minggu, 02 Desember 2007

Sedikit tentang Banjarmasin

Bagi yang belum pernah berkunjung ke Kalimantan Selatan, datang pertama kali ke Banjarmasin mungkin akan kaget. Begitu juga saya yang menginjakkan kaki kali pertama di kota Seribu Sungai ini, Juni 2003 lalu. Image Kalimantan sebagai paru-paru dunia langsung lenyap ketika turun dari Mandala Air di Bandara Syamsudin Noor Banjarbaru kala itu.

Sepanjang 25 kilometer perjalanan dari bandara ke pusat kota Banjarmasin tidak saya jumpai satu batang pohon pun tumbuh di kanan kiri jalan Ahmad Yani, sebagai jalan utama. Yang ada hanyalah padang ilalang diselingi pohon galam di kawasan Gambut dan Kertak Hanyar. Kotanya sangat panas, banyak debu dan padat, macet.


Awalnya, saya sempat miris saat akan dipindah ke kota ini. Dalam hati, saya akan bekerja di sebuah kota yang dipenuhi dengan pohon-pohon besar, tumbuhan hutan. Tapi, bayangan itu tidak saya temukan hingga empat tahun saya di kota ini. Bahkan, ketika saya melakukan perjalanan darat sejauh ratusan kilometer menuju Kabupaten Kotabaru, juga tidak saya temukan hutan yang ada dalam benak saya. Yang ada hanyalah hutan ilalang dan padang gersang serta rawa-rawa.

Kota ini dibelah oleh sungai Martapura yang lebar awalnya satu kilometer lebih. Tapi, pertumbuhan penduduk yang begitu cepat, dan peralihan kebudayaan sungai dan rawa menjadi kehidupan darat, memaksa sungai ini diurug dengan begitu cepat. Sungai inipun berubah menjadi jalan dan perumahan. Rumah-rumah lanting khas daerah rawa, kini telah berganti menjadi rumah cor padat seperti di wilayah lain.

Sebagian besar penduduknya berdagang. Spekulasi bisnis Urang Banjar sangat berani, terkadang kurang perhitungan. Pernah ribuan orang Banjarmasin ditipu beberapa orang dalam bisnis voucher isi ulang. Akibatnya, miliaran Rupiah melayang sia-sia karena investasinya macet.

Bisnis batubara yang mulai ramai empat tahun belakangan membuat beberapa orang kaya mendadak. Tak heran, jalanan Kota Banjarmasin berubah menjadi show room mobil mewah. Mulai dari roll royce panthom (1), hummer (5), toyota landcruisser, fortuner harrier (tidak kehitung lagi), BMW, mercedes, semua ada di Banjarmasin. Konon kabarnya, mobil mewah seri terbaru kebanyakan dibeli pertama kali oleh orang Banjarmasin.

Ada tempat wisata yang unik di sini, pasar terapung. Pasar ini mulai beroperasi usai shubuh hingga sekitar pukul 09.00 Wita saja. Pasar ini berpindah sesuai pergerakan arus sungai. Selain di Banjarmasin, pasar terapung juga ada di Martapura, namanya Lok Baintan. Karena kebanyakan usaha orang Banjar adalah pedagang, di Banjarmasin juga banyak terdapat pasar. Hampir di sudut kota ditemui pasar ini, mulai dari tradisional hingga hipermarket.

Meski kota ini menyebut dirinya Kota Santri, tapi kalangan pebisnis hiburannya seolah tak mau kalah dengan mendirikan beragam hiburan malam. Salon plus juga banyak bertebaran seperti layaknya di Jakarta. Ada tiga diskotik besar di Banjarmasin, Barito, HBI dan Grand. Seperti layaknya kota besar lainnya, kehidupan malam di Banjarmasin juga sangat hidup. Beragam aturan dibuat, tapi hiburan malam lengkap dengan pramusajinya juga jalan terus.

Kota Banjamasin yang pernah mendapat julukan Kota Terkotor se Indonesia (2006) ini berbatasan dengan Kabupaten Banjar dan Barito Kuala. Untuk menuju kota ini, bisa ditempuh lewat jalur laut melalui Surabaya dan Semarang. Jalur udara bisa diakses dengan pesawat melalui Surabaya, Jakarta, Balikpapan dan Yogyakarta (penerbangan langsung). Jalur udara ke dan dari kota ini termasuk padat, dengan tarif yang relatif murah.

salam,

Banjarbaru, Kalsel
Minggu, 02 Desember 2007

4 komentar:

  1. Bayangkan perubahan yang kami lihat sebagai warga aseli Banjar mas, luar biasa perubahan di Banjarmasin. Sayangnya banyak yang lebih ke arah negatifnya...

    BalasHapus
  2. Terima kasih mas manusiasuper, sudah mampir ke blog katrok saya...
    blognya pian ok be.ge.te....

    soal posting ini, maaf ya...

    BalasHapus
  3. ya mas saya juga terkesan begitu,terutama prostitusinya,negatifnya begitu cepat pertumbuhanya ya......hehehe piss....!!!!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Begitulah mas anonim, kata pepatah "ada gula ada semut" semoga warga kita memilih jalan religi yang muncul dari hati dalam ibadahnya, ketimbang tampak luarnya, aamiin.

      Hapus